Rindrianie's Blog

Tentang Judul

Entah kenapa, saya sulit sekali menentukan judul sebuah tulisan yang saya buat. Entah itu fiksi atau curcol belaka seperti kali ini. Bahkan, judul skripsi saya tempo hari pun terkena imbas dari penyakit akut serupa, dan menjadi salah satu bagian yang harus direvisi ups hihihi…

Ada beberapa tulisan yang muncul ide judulnya terlebih dulu sebelum isinya, tapi ya begitulah, prosentase-nya kecil sekali. Itulah kenapa saya sukkkkka sekali saat si judul sudah ditentukan, sehingga saya hanya tinggal berimajinasi berkhayal termenung menuliskan isinya. Hadeuh…lebay surabay pisan πŸ˜›

Nah, beberapa hari yang lalu saya menulis semacam FF, dan tahu dunk maksud saya berikutnya? hohoho… Seorang teman sudah menyumbang judul bertajuk ‘Tanah Merah’, saya pun menyukainya, tapi siapa tahu, ada ide judul yang lebih yahud he he πŸ˜€

Selain masukan untuk judul, silahkan lho dikritik fiksi berikut ini wink…wink…

Pada akhirnya, setiap orang akan mati. Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut. Suatu saat –entah kapan- kau tetap akan menjadi mayat, tak bisa bernafas, tak mampu bergerak, mati. Dengan atau tanpa peti, kau akan terkubur sekian meter di dalam tanah, untuk kemudian digerogoti cacing dan teman sebangsanya. Seperti itulah, tidak mungkin menolak, tak ada pilihan lain.

Lantas, kenapa pemakaman kali ini harus sedikit berbeda? Kenapa banyak sekali kamera? Kenapa banyak sekali karangan bunga? Owh, rupanya seorang bintang yang kini harus aku kuburkan.

Prosesi pemakaman berjalan dengan dramatis. Banyak teriakan meratap, deraian air mata juga bertabur jeritan pilu. Blah. Berlebihan. Sang jenazah tak bisa lagi mendengar, dia tak lagi peduli, dan tak mungkin juga dia bangkit lagi, β€˜kan? Toh mereka –yang berteriak menjerit menangis- itu, juga hanya tinggal menunggu giliran untuk dimasukkan ke dalam tanah seperti wanita ini. Drama ini entah kenapa menjadi memuakkan bagiku. Kematian adalah kembalinya seorang manusia ke dalam pelukan Tuhan, kenapa harus ditangisi sedemikian rupa? Tapi biarkan saja orang-orang ini berekspresi, toh mereka tidak menggangguku.

Marina? Rasanya aku tahu bintang film ini. Yeah, walaupun tentu saja aku tidak mungkin menonton film-filmnya. Lagipula untuk apa menghabiskan uangku untuk sebuah cerita picisan yang tak masuk akal? Cinta? Pengkhianatan? Tak ada waktu memikirkan hal semacam itu saat aku harus berpikir bagaimana membeli sebungkus nasi penyambung hidup setiap harinya.

Tapi tentu saja,Marina-si jenazah yang kini hampir tertimbun tanah- tidak pernah merasakannya. Hidupnya tentu selalu cemerlang benderang, tidak gulita seperti hidupku. Beruntung sekali dia, baru merasakan kegelapan saat jiwanya tak lagi bersamanya.

Baiklah, aku terlalu sinis. Maafkan keluhan-keluhanku tadi. Toh suatu saat nanti aku pun akan juga terbenam dalam tanah sepertinya. Walaupun tanpa kamera-wartawan-karangan bunga seperti ini, kepergianku kelak mungkin tetap menyisakan lara kehilangan dari istri dan anak-anakku β€˜kan? Serupa dengan perginya seorang Marina sang mantan bintang film terkenal yang kini telah tertimbun sempurna. Tanah merah basah itu kini pun bertabur bunga sepenuhnya.

β€œPak, terima kasih banyak tadi ya.” Seorang pemuda gagah berbusana hitam –dan juga berkaca mata hitam- menepuk pundakku saat pemakaman kembali beranjak sunyi. Seraya menyalamiku, terselip di tangannya sebuah amplop putih yang cukup tebal untuk ukuranku.

Ah, amplop tebal ini lah yang membedakan kematian seorang bintang dengan orang kebanyakan. Tak bisa tidak bibirku tersenyum tanda berterima kasih pada sang pemuda. Dan siang itu pun cangkulku terasa lebih ringan daripada biasanya dengan segepok uang tersimpan aman di saku celanaku.

Bagaimana? Ada ide judul tidak? he he

Happy Monday, Pals πŸ˜‰

0 Comments

  1. LJ

    judul ‘Tanah Merah’ menurut eMak sudah pas untuk FF yang orin tulis.

    FF yang bagus sekali, ada pesan mendalam di situ.. πŸ™‚

    Orin : Owh? sudah pas ya Mak? hohoho..

    makasih lho Mak apresiasinya *peyuuuuk*

    Reply
  2. Lidya

    orin aja bingung kasih judul apalagi aku hihihi. lumayan tebel ga amplopnya

    Orin : Lumayan Teh buat beli pempek heuheu

    Reply
  3. maminx

    subhanallah teh baru aja jam 4 aku komen di lapak valentino orin/rossi..eh udah ada postingan terbaru nih

    luar biasa rajin pisan teh, salut saya mah..pengen rajin posting kayak teh orin, bagi waktu dengan kerja nya kan pasti repot πŸ˜€

    Orin : Wew, postingan sebelumnya kan published hari rabu lalu Minx πŸ˜›

    Reply
    1. maminx

      iya teh berarti saya telat ngomen nya di postingan rabu itu ya, hehe..tetep we teh rajin ceuk sayah mah soalna kan kerja juga, salut πŸ˜‰

      Reply
  4. rizalean

    Duka mereka, penyambung hidupku

    Orin : Hatur nuhun masukannya Akang πŸ˜‰

    Reply
  5. walankergea

    keterampilan membuat judul yang bagus merupakan salah satu aspek penting dalam menyajikan tulisan yang menarik. Dan itu akan berkembang seiring dengan latihan menulis terus dan terus..Menurut saya gitu. So jia you….cemungudz πŸ™‚

    Orin : cemunguds kakaak πŸ˜€

    Reply
  6. alamendah

    Judul apa, ya yang paling pas?. Ikutan bingung, ki… Tanah Merah boleh juga.

    Orin : heuheu…maaf lho mas jd ikutan bingung πŸ˜€
    tengkyu ya πŸ˜‰

    Reply
  7. ysalma

    “Tanah Merah” sepertinya udah sip Rin.
    FF nya dalem banget πŸ™‚

    Orin : makasih ya Mak, kalo ga dalem ga bs dikubur nanti #eh? hihihi

    Reply
  8. ayankmira

    suka dengan judul “Tanah Merah” nya… gimana yaa… seperti ada misteri yang disampaikan dalam judul tersebut *tsaahh qiqiqi

    Orin : Misteri Tanah Merah keknya syerem ya Jeng qiqiqiqi

    Reply
  9. djangkies

    bagaimana kalo Tanah Merah di Ujung Cangkul

    Orin : hohoho…ide yg usul, terima kasih Pak Ies πŸ˜‰

    Reply
  10. Pemilik Restoran Suroboyo

    Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut.

    Kalimat diatas terputus karena diakhir tanda titik, padahal harusnya ada sambungannya.

    bagaimana kalau ditambah beberapa kata sehingga kalimat diatas berbunyi

    Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut, ajal pasti akan datang.

    Judul Tanah Merah sudah sip. Tapi jika dikaw pakai judul Amplop Kematian bisa membuat pengunjung lari.

    Salam sayank selalu

    Orin : matur nuwun sanget Dhe masukannya, Orin buat seperti itu karena di kalimat sebelumnya sudah ada πŸ™‚
    Amplop kematian? wuiiih…syerem pisan itu mah hihihihi

    Reply
    1. elsayellow

      hehehee..masa judulnya amplop kematian
      pasti calon pembaca jadi takut

      Reply
  11. Tebak Ini Siapa

    Aku kalau nulis postingan selalu isi judulnya dulu…
    Kalau ga ada ide judul, ga mood nulis hihi
    Judul yang dipikirin belakangan, buatku selalu ga bikin sreg πŸ˜€

    bingung ah apa judulnya.
    Tapi keren ff-nya…

    Orin : banyak jg yg begitu ya Na, aku ga termasuk tapi πŸ™
    tengkyu ya neng ^^

    Reply
  12. Sofyan

    Kalau saya malah kadang judul sama isinya beda hehe,,tapi ngomongΒ² FF ini bagus banget, judulnya Tanah Merah sangat pas menrutku Kak, banyak pesan dicerita tersebut πŸ˜€

    Orin : Itu dia Sof, aku jg jadinya begitu deh kalo mentok nyari judul hihihi..
    tengkyu ya apreasiasinya πŸ˜‰

    Reply
  13. nchie hanie (@nchiehanie)

    Orin emang jagonya bikin FF
    si neng aja bingung kasih judul..
    apalagi neneng..
    blank..

    Reply
  14. Arman

    wah apa ya judulnya…
    penggali kubur? huahahaha

    gua juga payah sih dalam hal mencari judul. πŸ˜›

    Reply
  15. Masbro

    Hahaha.. penyakitnya sama kayak saya, ada di judul πŸ™‚

    Maap Mbak, nggak ada ide tentang judulnya. Saya ini malah sedang mikir judul untuk tulisan sendiri, hehe..

    Reply
  16. monda

    Tanah Merah udah lebih puitis drpd Sang Penggali Kubur judul alternatif dariku, Nyeremin malah

    Reply
  17. mama ina

    inti postingannya kan tentang Balada Penggali Kubur yach…kayaknya Tanah Merah udah pas tuch

    Reply
  18. Diandra

    Oriiiinn….
    idem aq juga paling bingung kalau kasih judul
    suka minta ide judul apa sama papahnya Rafi
    tetep aja idenya gak qta terima
    hihihi….

    hhmm….untuk ceritanya Orin
    aq coba kasih judul
    “Amplop tebal”
    hahaha….
    *tuh…kan aq emang beneran gak gape bikin judul*

    Reply
  19. Yusuf Abdac

    wow… penuh makna, mengalir tenang, endingnya juga lucu πŸ™‚ Keep Up!

    Reply
  20. bunda lily

    Oriiiinn….menurut bunda mah itu dah bagus judulnya “Tanah Merah” πŸ™‚
    dan……….FF nya Orin selalu keren …..
    ( 10 jempol deh pokoknya buat FF ini)

    eh, tapi isi amplopnya berapa? bunda bisa ikutan ditraktirin dong ya Rin …hehehe πŸ™‚
    salam

    Reply
  21. Yunda Hamasah

    Aku juga termasuk yang susah buat judul, akhirnya judul-judulan dech, dipas-pasin gitu, heheee…

    Tanah Merah? Ini dah pas kok Rin ^^

    Reply
  22. Idah Ceris

    memang jagoan nulis ini mba orin.. .

    baguus banget. . .
    tanah merah kalau diplesetkan jadi tanah abang ya mba? πŸ˜†
    sudah bagus judulnya mba. . lanjutkan saja. . .

    kalau dengan judul “hidup dengan tanah merah”. nanti dikira gak bisa hidup tanpa tanah merah ya mba? hihihihi

    Reply
  23. Lutfi Retno Wahyudyanti

    Iyaaa.. bikin judul emang susah. Aku juga kalau nulis sering ganti mpe berkali-kali. Gimana kalau judulnya Memento Mori? Itu bahasa latin, artinya kira-kira: Ingatlah, suatu saat nanti kau akan mati

    Reply
  24. advertiyha

    penunggu giliran
    ini merajuk ke semua manusia, yang memang menunggu giliran untuk kembali kepadaNya

    tanah merah bagus, tapi identik dengan satu daerah di plumpang Jakarta utara, hehehhe.

    tapi isi FFnya, keren beuddd,,, πŸ™‚

    Reply
  25. Yos Beda

    kadang saya juga kok, menentukan judul postingan kadang bisa lebih lama dari saat menulis postinganya πŸ™‚

    Reply
  26. Hallyu- Korea Buzz- Tempat Wisata

    Oriiiiin…
    aku juga suka paling dodol kalo di suruh nyari judul…
    dan biasanya suka gak nyambung gituh…

    fiksinya keren Rin…

    ehm…gimana kalo judulnyah…Binar Bening Berlian…hihihi…

    Reply
  27. Akhmad Muhaimin Azzet

    hehehe…. saya juga kalo nulis, seringnya judulnya belakangan, setelah dibaca ulang dan dipikir-pikir, baru nemu judulnya…

    kalo fiksi yang asyik tersebut, gmana kalo judulnya “Amplop”

    Reply
  28. yuniarinukti

    ngikut judulnya Pak Ies, amplop diujung cangkul..

    Reply
    1. elsayellow

      kenapa nggak mencangkul amplop aja?
      Hihiihihihi

      Reply
  29. mechtadeera

    Hm… “Ketika saatnya tiba” agak terlalu panjang ya… kalau “Pembeda” malah terlalu singkat… hehe…ikutan bingung jadinya…*yuuk pegangan bareng.. hehe*

    Reply
  30. Zee

    Kalau aku mungkin akan pilih judul “Amplop Tebal” hahahhaa….

    Reply
  31. nurlailazahra

    amplop kematian juga lebih ngena Teh kayaknya, karna org akan tertarik membaca kalo liat judul yg menarik pula πŸ˜€

    Reply
  32. Imelda

    “Marina”? hihihi

    Reply
  33. chocoVanilla

    “Kematian, Sebuah Ironi”

    (halah…halah…judule maksa hihihihihihi…….)

    Reply
  34. abi_gilang

    Biarpun telat akang juga kepengen usul judul nih..gimana kalo judulnya “Se-merah tanah, seputih kafan, semau gue he he he” ….becanda!!!

    Reply
  35. bundaMaRish

    judulnya : bapak penggali kabur dapet segepok uang dari kematian seorang bintang

    *kurang panjang gak teh??? πŸ‘Ώ

    Reply
  36. Pingback: Dan Yang Beruntung Adalah… | Rindrianie's Blog

Leave a Reply

%d bloggers like this: