Rindrianie's Blog

Tentang Karakterisasi Tokoh

*Warning : seperti judulnya yang sedikit formal dan ‘ngga banget’, postingan ini mungkin membosankan karena akan sangat panjang, terutama bagi temans yang tidak terlalu menyukai fiksi. Maka, sila diskip saja ya πŸ˜‰

***

Jadi, dulu, waktu saya dan empat orang teman saya belajar Creative Writing bersama Maggie Tiojakin selama kurang lebih 8 pertemuan, salah satu tugas yang kami terima adalah membuat biografi tokoh utama dalam cerita yang kami tulis untuk tugas sebelumnya.Β Maka seperti biografi-biografi yang saya tahu, saya menuliskan biodata tokoh saya. Lahir di mana, nama ibu bapaknya siapa, pernah sekolah di mana saja, bekerja di kantor anu sebagai anu hingga tahun sekian, menikah dengan si A dan memiliki anak bernama si B, C dan D, hobinya bla bla bla, pernah menjadi bla bla bla dan sebagainya dan seterusnya yang seperti itu.

Setelah penjelasan biografi sang tokoh, tiap orang (yang lain) diminta mengajukan pertanyaan pada si pembuat biografi itu, pertanyaan jenis apapun yang harus dijawab dengan segera tanpa berpikir. Misalnya saja : Apa warna favorit si tokoh? Apakah dia perokok? Apakah dia suka komik Jepang? Apakah dia benci Matematika? Apakah dia pernah diperkosa? Apa cita-citanya waktu kecil? Apakah dia pernah kutuan? Apa pendapatnya tentang sinetron Indonesia? Semacam itulah, pertanyaan apapun yang betul-betul random bahkan cenderung absurd πŸ˜›

(Percaya deh, ‘diteror’ pertanyaan seperti itu betul-betul mati kutu lho hihihihi *abaikan*)

Tapi pertanyaan-pertanyaan tadi nantinya akan sangat berguna saat kita mengembangkan cerita. Karena tokoh yang seorang perokok tentu akan bereaksi berbeda jika dimasukkan ke dalam setting bertanda “Dilarang merokok”. Atau, tokoh yang pernah diperkosa, akan memiliki sikap tertentu saat kekasihnya ingin menikahinya. Atau, tokoh yang suka sinetron Indonesia pasti ‘harus’ tahu siapa artis-artis sinetron yang sedang tenar sekarang. Intinya, tokoh kita ‘believable’, bukan manusia berkarakter sempurna, tidakΒ ngawang-ngawang alias membumi seperti orang yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan tokoh kita betul-betul nyata dalam imajinasi kita.

Intermezo. Tokoh kita betul-betul nyata dalam imajinasi kita <= kalimat ini tampak keren ga sih? plaaaak qiqiqiqi. Abaikan. Mari kita lanjutkan.

Nah, saat itu Maggie menjelaskan, menurut seorang sastrawan (ahli bahasa, ilmuwan, atau apalah ya itu) yang saya lupa namanya siapa, mengkategorikan ‘informasi’ karakter yang dimiliki tokoh rekaan kita ke dalam empat kuadran. Pernah tahu kuadran income Robet T. Kiyosaki kan? Bayangkan bentuk yang kurang lebih sama, dan mari kita bahas satu persatu penjelasan masing-masing kuadran.

Kuadran I

Karakter tokoh di kuadran ini adalahΒ first impression kita terhadap seseorang. Bisa dikatakan, kesan dan penilaian fisik kita pada seseorang yang baru kita kenal. Sebutlah tokoh kita bernama Ningsih. Dia adalah wanita, usia 30an (karena rambutnya belum beruban dan tidak banyak keriput), orang Jawa (karena berkulit langsat), rambut ikal, langsing, suka tersenyum, modis.

Begitu kira-kira karakterisasi tokoh di kuadran I, deskripsi singkat yang bisa tertangkap indera.

Kuadran II

Di kuadran ini, Ningsih seperti teman kantor yang bisa kita temui setiap hari tapi tidak terlalu dekat dengan kita karena bukan bagian dari gank kita. Tapi kita bisa tahu rumahnya dimana, sudah menikah, apa warna kesukaannya dari pilihan baju-tasnya sehari-hari, rajin merawat tubuh karena suka nge-gym, pintar berbahasa Inggris dan membuat presentasi powerpoint, tidak suka pedas. Semacam itulah.

Informasi yang kita tahu tentang Ningsih tidak hanya di penampilan luarnya saja, walaupun belum terlalu detail.

Kuadran III

Ningsih adalah BFF (baca : Best Friend Forever *tsaaah* :P) kita dalam kuadran ini. Kita tahu betul film kesukaannya, apa yang bisa membuatnya marah, bagaimana gerak tubuhnya jika dia sedang panik, apa menu pilihannya saat makan di restoran tertentu, perubahan sikap dan cara berpikirnya selama beberapa tahun terakhir, bahkan kita tahu dia ngorok saat tidur atau tidak. Jadi kita betul-betul tahu bagaimana karakter Ningsih, karena dia sudah begitu dekat bahkan sudah menjadi (semacam)Β soulmate kita.

Sudah bisa menebak kuadran terakhir belom? πŸ˜›

Kuadran IV

Di kuadran terakhir ini, Ningsih adalah diri kita yang dilihat oleh kita yang ‘lain’. Mirip alter ego lah ya, atau saat kita melihat bayangan kita di cermin dan ‘berkenalan’ dengan sosok yang terpantul di sana. Kita bisa tahu apa obsesi terbesar Ningsih, peristiwa apa yang masih membuatnya sakit hati hingga sekarang, apa yang sering dipikirkannya saat tak ada seorang pun di sekelilingnya, pada siapa dendam terdalamnya ditujukan. Intinya, segala sesuatu yang bisa dianggap sebagai rahasia pribadi dan hanya dia miliki sendiri.

Latihan berikutnya yng diberikan Maggie, demi bisa mengaplikasikan si kuadran IV di atas, adalah membuat obituari (berita kematian) tentang diri kita sendiri. Bagaimana kita melihat diri kita dari sudut pandang orang lain. Sehingga diharapkan pada akhirnya kita bisa betul-betul bisa sangatΒ dekat sekaligusΒ memisahkan diri dari karakter tokoh yang kita buat.

Apakah penjelasan masing-masing kuadran membuat teman-teman bingung dan malah tambah ngga mudeng? *nyengir*.

Latihan mudah untuk menggali ‘informasi’ dari karakter calon tokoh kita adalah dengan observasi dan ‘bertanya’. Misalnya begini, saat melihat seorang teman yang mengantuk di tengah-tengah meeting, saya akan ‘bertanya’ apakah semalam dia begadang nonton bola? Atau di rumahnya sedang banyak nyamuk? Atau salah satu anaknya sedang sakit?

Saat di Mall saya melihat seorang pria bercelana hijau berkemeja biru berdasi merah, saya akan mulai ‘bertanya’ apakah dia buta warna? Apakah dia pernah membaca majalah fashion? Apakah dia tipeΒ trend setter yang senang menjadi pusat perhatian?

Atau saat saya membeli roti untuk sarapan pada abang-abang yang lewat di depan rumah, seringkali saya juga iseng ‘bertanya’ apakah menjadi tukang roti sudah menjadi cita-cita si abang ini sejak kecil? Apakah dia sudah sarapan sebelum berkeliling berjualan? Berapa penghasilan per harinya?

Terkadang pertanyaan-pertanyaan tertentu bisa saja menimbulkan ide cerita. Dan percaya atau tidak, terkadang, si tokoh rekaan kita itu (seperti) betul-betul hidup dan memilih sikapnya sendiri. Misalnya dalam FF saya kemarin, awalnya saya membuat tokoh ‘aku’ itu sebagai anak yang akan kuliah di Jakarta, maklumlah, saya baru saja membaca Rantau 1 Muara A. Fuadi, jadi terinsipirasi saat si Alif pergi pertama kali untuk merantau ke Gontor di novel-novel sebelumnya. Tapi ndilalah, si aku ternyata lebih suka menjadi seorang calon ART *ups* hihihihi.

Nah, pertanyaan berikutnya, apakah kita harus membuat karakterisasi setiap tokoh kita selalu berada dalam kuadran IV? Jawabannya (yang tentu saja bisa ditebak) adalah : tidak. Ambil saja beberapa ‘informasi’ terkuat yang akan mendukung cerita. Tahu gunung es di samudera, kan? Yang terlihat oleh mata kita hanya sebagian kecil puncaknya saja. Begitu pula dengan karakterisasi ini, tidak perlu semuanya dipaparkan dari A to Z, apalagi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan cerita yang sedang kita bangun, tapi kita -sebagai penulis- sebaiknya tahu ‘the whole stories’ dari para tokoh tersebut.

Maggie selalu bilang,Β the readers are smart, dan ini terus-terusan saya ingat saat menulis. Beri sedikit ruang bagi pembaca untuk mengimajinasikan sendiri tokoh yang kita ciptakan, tidak perlu ‘disuapi’, dan kadang deskripsi yang terlalu detail akan sangat membosankan binti boring apalagi jika menggunakan pilihan kata yang tidak tepat. Jadi seperti memasak, kita harus tahu takaran paling tepat agar cerita kita sedap dibaca dan mengenyangkan *halah*. Karena saya selalu menyukai fiksi yang membuat saya berpikir saat membacanya, maka saya setuju bahwa sebetulnya tugas seorang penulis adalah untuk membuat pembacanya bertanya, walaupun menulis sesuatu yang seperti demikian ampun deh ya susahnya :P.

Mmm…apalagi ya. Sepertinya ingatan saya tentang pelajaran karakterisasi cuma sampai situ deh hihihihi.

Saya sangat paham, bahwa sebetulnya saya tidak memiliki kapasitas apapun untuk menuliskan (semacam) teori menulis seperti ini, toh fiksi saya juga jauh dari kata bagus dan masih begitu-begitu saja (kalau tidak mau dibilang geje :P). Jadi maafkan jika saya terkesan sotoy a.k.a belagu Indonesia raya ya temans, hanya ingin berbagi sedikit ilmu yang pernah saya pelajari agar saya tidak lupa. Semoga ada manfaatnya walaupun cuma seuprit πŸ™‚

Ya sudah, begitu dulu saja ya. Sekian dan terima kasih^^

0 Comments

  1. Fauzi

    Wow… Terima kasih tutorialnya. Kayaknya tokoh yang pernah kubuat selama ini tidak ada karakternya semua. Hahahaha…
    ___
    ayo belajar sama Fauzi^^

    Reply
  2. Sigit Raharjo

    sangat membantu dan mencerahkan, terima kasih mbak
    ___
    my pleasure OmSig πŸ˜‰

    Reply
  3. nurlailazahra

    saya nyimak Teh. meuni bermanpaat pisan. Tararengkyu yaaaaaaaaa :*
    ___
    Anytime, Sarah πŸ˜‰

    Reply
  4. rinibee

    sukaaa..! Makasih udah dibagi2 ilmunya… πŸ˜€
    ___
    samai2 mbak Bee πŸ˜‰

    Reply
  5. abi gilang

    Setuju Orin! menuliskan apa yg kita fahami bukan berarti kita menggurui orang lain tapi agar kita sendiri lebih faham dan tentunya kl udah ditulis jadi gampang nyari lagi kl lupa πŸ™‚
    ___
    iya kang, biar Orin ga lupa^^

    Reply
  6. nyonyasepatu

    bagus banget tulisan ini untuk nambah2 pengetahuan Orin. Btw….aku pernah loh kutuan pas sd hihihi. Ketularan dari temen πŸ™‚
    ___
    aku jg pernaaaah Non pas SD hahahaha

    Reply
  7. sulunglahitani

    pengen deh ikut kelas2 menulis kaya gitu jg, mbak. tapi adanya paling cuma di Jakarta, ya? πŸ™‚
    ___
    Semoga nanti jg ada di tempatmu ya Lung, ini jg dibela2in, coz sebetulnya jauh ke Jakarta dr rumahku di Bekasi hihihihi

    Reply
    1. fatwaningrum

      iyya pak guru, aku juga suka iri sama yang tinggal di kota besar gitu, sering banyak acara yg bikin ngiler πŸ˜€
      ___
      banyak sih banyak mbak Na, tapi biasanya berbayar, Alhamdulillah bgt tempo hari itu aku gratis hohohoho

      Reply
      1. Rini Uzegan

        Idem sm Mbak Na πŸ˜€
        ___
        πŸ™‚ πŸ™‚

        Reply
  8. Evi

    Jadi si tokoh itu benaran seperti orang hidup lainnya ya,Teh..I see..thanks telah berbagi
    ___
    Sama2 Tanteeee πŸ˜‰

    Reply
  9. Idah Ceris

    Waah, main kuadran. . .
    Saya menyimak. Dan jika tokoh yang diceritakan berkarakter tuh yang membaca benar2 ikut merasakan dan ikut memahami.

    Seperti tokoh2 yang sudah pernah ditulis di sini, Ayumi, Bang Baim, Lara dll dll. . . :mrgreen:
    ___
    Iya Dah, tujuannya begitu, biar si pembaca mengalami juga apa yg sedang si tokoh alami πŸ˜€

    Reply
  10. Bibi Titi Teliti

    Oriiiiin…
    inih postingan keren pisaaaaan…
    Aku sukaa banget baca buku yang karakter nya detail banget…
    seakan akan kita kenal ama tokoh nya…

    Bahkan kalo di novel nya Sidney Sheldon suka sampe diceritain sejarah hidupnya gitu kan, dari kecil dan kenapa dia bisa sampe punya kepribadian tertentu…

    keren lah πŸ™‚

    Sok atuh kapan novel nya direlease…hihihi…
    ___
    Bibiiiiii…kalimat terakhir bikin galau deh >_<

    Reply
  11. ranny

    Paling seneng ada yg bagi ilmu kek gini πŸ˜‰
    Makasih teh,share ilmunya..
    ___
    My pleasure, Ran πŸ˜‰

    Reply
  12. jampang

    terima kasih sharingnya, mbak.
    baru belajar nulis fiksi dan ternyata memang lemah di penokohan dan konflik
    ___
    Kita sama2 belajar yaa πŸ˜‰

    Reply
  13. myra anastasia

    mungkin itu knp sy rada susah nulis fiksi, ya. Selain blm pernah latihan spt ini, sy cenderung cuek sm sekeliling hihihi
    ___
    heuheu…dari kecil aku suka merhatiin orang2 gitu mba Chi, entah kenapa, suka aja rasanya hihihihi

    Reply
  14. eksak

    Gila! Elu belajarnya udah ama orang luar negeri! Nah, gue? Makanya gue mati2an belajar berguru perasaan! Hehe..

    Wlo panjang, tapi gue khatamin dan gue seneng karna scr gak langsung gue dpt guru! Terima gue jdi murid, Suhu!
    ___
    Hah??? suhu? dingin apa panas nih? hahaha πŸ˜›
    Maggie itu orang Indonesia aseli kok, cuma pernah di Boston aja 6 tahun, jadi ‘ilmu’nya emang kebanyakan ilmu sono. sama2 belajar yuk, Sak πŸ˜‰

    Reply
  15. titi esti

    Oriiiiinnnn…. tengkiyu very mmmmmmuach…….. aku selama ini bikin fiksi tanpa teori *malumaluinyah
    ___
    Ah, dirimu mah ngefiksi-nya udah bagus bgt walopun tanpa teori, Teh *ketjup* πŸ˜‰

    Reply
  16. alaika

    Wow, tulisan Orin yang ini berguna banget bagi penulis pemula seperti daku nih, Rin. Langsung bookmark ah. Trims ilmunya ya, say! Muaaaach!
    ___
    Hoalaaaah…mbak Al kan udh jadi penulis expert *lgsg melipir malu*

    Reply
  17. Zizy Damanik

    Sharing yang berguna. Tidak sotoy sih, justru bagus sekali….
    ___
    Tengkyu mbak Zy^^

    Reply
  18. mamayara

    Bacanya ampe 2X, Rin..

    Aku sukaaa sekali baca fiksi, novel.. tapi nggak pernah pede buat nulis apalagi tayang… kalaupun ada di blog itu cuma “terpaksa” padahal maluuuu banget karena masih “kuning” *nggak berani nyebut hijau.. he..he…

    Thanks ya udah bagi-bagi ilmu… πŸ™‚
    ___
    cuma perlu banyak latihan aja kok Mam, apalagi udh suka baca fiksi, krn sebetulnya menulis itu 70% prosesnya adalah membaca, begitu kata guruku hehehe

    Reply
  19. Ejawantah Wisata

    Mantap benar Mba sharingnya, berbobot dan bermanfaat. Thanks ya atas sharingnya.

    Salam wisata
    ___
    Alhamdulillah kalo ada manfaatnya mas πŸ™‚

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: