Rindrianie's Blog

Tentang Menjadi 'Korban'

Baru hari kedua puasa sih, tapi saya mau curcol nih, boleh ya? #eeaaa hihihi.

Meskipun tidak bersamaan, beberapa teman curhat via whatsapp. Yang satu mengeluhkan bossnya di kantor yang ya … begitulah ya, tipikal atasan yang dibenci para bawahan :P. Yang satu lagi bercerita tentang kekasihnya yang hobi sekali ber-PHP ria, mirip sebuah lagu, entah dibawa ke mana hubungan mereka itu. Yang terakhirnya bersedih hati karena suaminya masih saja betah tinggal bersama orang tuanya, padahal mereka sudah punya rumah sendiri, tapi keukeuh nggak mau pindah tanpa alasan yang -menurut teman saya- masuk akal.

Saya mengerti, salah satu fungsi menjadi sahabat adalah menjelma ‘tong sampah’ di saat-saat tertentu, dan saya memang rela-rela saja mendengarkan semua keluhan dengan baik, menyimak semua ocehan-kekecewaan dengan khusyu’, berempati pada apa yang sedang mereka hadapi dengan ikhlas.

Lantas kenapa saya merasa postingan semacam ini harus ditulis? Adalah karena mereka mengajukan kalimat tanya “menurut lo gimana, Rin?” yang kurang lebih esensinya tentu saja -secara tidak langsung- saya diharapkan memberikan mereka sebuah masukan-pendapat-nasihat-opini atau semacamnya, iya kan? Nah, cara mereka menanggapi masukan-pendapat-nasihat-opini ini nih yang membuat saya kezeelll dan akhirnya terpaksa menuliskannya di sini, lagi shaum bok, ga boleh marah-marah pun :P.

Menerima nasihat yang tidak kita minta memang mengesalkan, setidaknya bagi saya he he. Tapi ternyata, menerima dalih-penyangkalan-pembelaan diri dan semua derivasinya dari seseorang yang meminta nasihat pada kita, lebih menyebalkan lho hahaha.

Setiap masukan-pendapat-nasihat-opini yang saya kemukakan, hampir selalu dijawab dengan kalimat-kalimat “Tapi kan, gue …” atau “Iya sih, cuma kan harusnya … ” atau “Nggak bisa, gue kan …” atau yang semacam itulah ya, kebayang kan jenis-jenis kalimatnya? Kalimat-kalimat yang -menurut saya- hanyalah indikator bahwa mereka memang suka menjadi ‘korban’, menikmati ‘penderitaan’ yang sedang dialami, dan seolah menolak ide apa pun yang ada untuk keluar dari keadaan itu.

Maksud saya begini, kalau tidak tahan lagi bekerja sama boss yang nyebelin, ya udah atuhlah resign aja, toh yang memberi rezeki mah Tuhan bukan si boss, masa iya sih nggak bisa makan cuma karena nggak bekerja di sana lagi? Si Pacar nyebelin? Ganti aja napa?! *ups hihihi*, Nah, kalau udah jadi suami ya nggak bisalah ya main ganti-ganti begitu, gimana kalau mertuanya aja yang diganti? *tambah ngaco :P*.

Inti masukan-pendapat-nasihat-opini saya pada teman-teman tadi sebetulnya sederhana saja sih, yaitu: take it or leave it. Mau pilih yang mana? Kalau pilih ‘take it‘ ya jangan terlalu banyak mengeluh, nikmati saja ‘penderitaannya’, kalau kepengen pilih ‘leave it’ ya sok atuh segera laksanakan, jangan kebanyakan alasan woy! *esmosi* hihihihi.

Well,  postingan ini sebetulnya jadi pecut pagi saya sendiri sih, siapa tahu tanpa disadari saya sering juga suka sekali menjadi ‘korban’ dan menikmati penderitaan. Padahal kita hanya diberi masalah-masalah yang pasti bisa kita selesaikan, iya kan? Setidaknya menurut saya sih begitu ya he he he.

Ya sudah, berhubung saya harus bersiap-siap memasak untuk berbuka, mari kita sudahi saja curcol nggak jelas ini, temans :).

0 Comments

  1. bemzkyyeye

    Trs mslh gw gmn Yin? Ah ga mau ah! Secara kan gw.. Tp gmn dong? #dikepretMenyan hahaha

    Reply
    1. Orin (Post author)

      *lempar Yeye pake brownies oreo* hahahahaha

      Reply
  2. ariani

    Karena belagak jadi korban lebih enak teh daripada memilih berjuang untuk berubah. Gak semua sih, balik ke orangnya lagi… tapi ya gitu deh Teh… udah ah yuk taraweeh…

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya Iiiiiis, kadang emang jd korban itu menyenangkan sih ya hihihihi

      Reply
  3. Lia

    wah ternyata banya yang curhat ke Orn ya, aku daftar boleh gak ya 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Boleh Teh boleeeeh, gratis kok hahahaha

      Reply
  4. partnerinvain

    aku juga mikir untuk move dari tempat kerjaku inibiar ngga terlalu capek biar deket keluarga tapi alasan terkuat sihbiar bisa menghindar dari Boss galak, walaupun ditempat baru ntar Bossnya galak juga tapi kan tempat kerjanya deket…#alesan lagi…hahaha

    Reply
    1. Orin (Post author)

      ayooo segera diputuskaaan, jangan terlalu banyak alasaaaan *kompor meleduk dot com* hihihihi

      Reply
  5. lovelyristin

    take it or leave it… itulah pilihan. krn hidup kdg hrs memilih yaa.. 😉

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya mbak, hidup adalah pilihan itu meman klise, tapi begitulah ya hihihihi

      Reply
  6. Nefertite Fatriyanti

    Iya mba, memang ada tipe-tipe manusia yang suka menikmati penderitaan, entah ya mungkin ada semacam sensasi tertentu, halah

    Reply
    1. Orin (Post author)

      sepertinya begitu ya, ada keinginan untuk diperhatikan mungkin hihihihi

      Reply
  7. jampang

    setuju sama masukannya, teh… take it or leave it.

    sepertinya saya pernah nulis dengan judul take it or leave it.

    *nggakadayangtanya*

    Reply
    1. Orin (Post author)

      gampil padahal, pilihannya cuma dua ya bang he he

      Reply
  8. fitrimelinda

    take it or leave it..tapi kaaann…

    *langsung dikepret teh orin* 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hahahaha…mau dikepret pake apa Fiiit? #eh?

      Reply
  9. della

    Gue pernah baca nih buku tentang ngadepin orang kayak gini, lupa judulnya, terbitan Serambi. Gue khatam banget soalnya orang-orang kayak gini juga yang sering gue hadapin. Kalo kayak gini Rin, lo balikin lagi, “Hmm.. menurut kamu gimana?” Ntar biarin deh dia ngoceh terus. Kalo dia nanya lagi, lo balikin lagi karena orang-orang kayak gini sebetulnya di kepalanya tuh udah terbentuk “statement’-nya sendiri, tapi gue juga nggak ngerti kenapa mereka ngerasa perlu nyiksa orang dengan minta pendapat yang pasti akan mereka tolak. Mungkin semacam sakit ji… ups … puasa 😀
    Udah gue coba and it works ^^

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya Del, kemarin ini mgkn krn curhatnya di wasap ya, kan beda sama kalo kita ngobrol lgsg. Gua belom selesai ngomong udah dibantah duluan, ih pucing pala berbi bgt deh itu kepengen nabok bhuahahaha

      Reply
  10. echaimutenan

    aku yang sering gitu..diem saja .____. males perpanjang…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: