Rindrianie's Blog

Tentang Pram | #TributetoPram

Ternyata saya belum mengenal seorang Pramudya Ananta Toer seperti seharusnya.

Pertama kali saya tahu Pram, adalah awal-awal kuliah dulu. Saat itu, saya sering main ke kostan teman SMU dulu, yang kuliah di Sastra Indonesia. Karya-karya sastra karya Karl May, Anton Chekov, Victor Hugo, Umar Kayam, Motinggo Busye, N.H Dini dan sebagainya dan semacamnya, si teman ini yang mengenalkan kepada saya. Salah satunya tentu saja Pramudya Ananta Toer ini.

Walaupun, tidak semuanya sempat saya baca sih. Namapun mahasiswa kere ya, jadi tidak terbeli, hanya mengandalkan meminjam di perpustakaan jurusan ataupun fakultas, itupun seringkali kurang beruntung karena pastinya rebutan. Teman saya ini juga sama saja, hanya buku-buku tertentu saja yang dia punya sehingga bisa saya pinjam sedikit lama.

Singkat cerita, suatu hari si teman mumet saat saya berkunjung. Rupanya yang membuatnya pusing berat adalah 4 buah buku yang adalah Tetralogi Buru-nya Pram. Ada tugas esay menganalisa tetralogi tersebut katanya. Bumi Manusia-Jejak Langkah-Anak Semua Bangsa-Rumah Kaca, keempatnya berserakan dengan banyak post it terselip di beberapa halaman.

Sang teman bercerita kesulitan menganalisa Pram dan karya-karyanya adalah karena Pram diduga sangat ‘kiri’, sehingga jangan sampai esay yang akan ditulisnya terlihat memihak atau menghujat. Karya-karya itu ditulis Pram saat di penjara di Pulau Buru, maka isinya mungkin terselip propaganda dan doktrin yang dianggap berbahaya, jadi harus hati-hati mengungkapnya. Bla bla bla… teman saya menjelaskan kenapa tugas itu berkategori mumet bin njelimet. Hedehhh…saya jadi jiper duluan mau baca, padahal tidak perlu tulis esay segala seperti teman saya itu hihihihihi.

Maka saya belum pernah benar-benar membaca Pram dari awal sampai akhir hingga habis. Jadi saya membaca sebagian saja, sesempatnya saat saya main ke kostan teman tadi, atau membaca cepat-cepat saat ada teman yang sedang membacanya dan saya berkesempatan meminjam sebentar. Semacam itulah. Hingga saya sudah bekerja pun, belum ada novel Pram yang saya beli, mungkin karena saya jiper duluan ya, sudah terkontaminasi si teman jadi khawatir karya Pram adalah ‘berat’.

Hingga kemudian saya dipinjami *hai mbakyu yang ada di sana hohohoho* Midah Simanis Bergigi Emas dan Gadis Pantai. Mengertilah saya sekarang kenapa Pram begitu melegenda, karyanya betul-betul ‘melebihi masanya’, tetap masih bisa dinikmati hingga kapanpun. Mungkin sayanya yang telat ya, baru ngeh betapa canggihnya Pram menulis, Gadis Pantai misalnya, adalah novel tidak biasa yang bahkan pembaca tak diberi tahu nama si Gadis Pantai itu siapa!   Diksinya keren, karakterisasinya sangat kuat, bahkan settingnya sangat menawan. Keren lah pokonya kalau menurut saya mah :),

Maka saya sangat sependapat dengan (semacam) jargon terkenal yang sering dikutip darinya, bahwa “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, Pram dan karya-karyanya akan (bahkan sudah terbukti) adalah abadi.

Ya sudah, begitu saja ya. Sekian dan menerima kiriman novel-novelnya Pram :D.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #IWritetoInspire.

0 Comments

  1. Lidya

    baru baca pengantar udah pusing kalau aku rin hehehe
    ___
    padahal setelah dibaca ngga lho Teh, asyik novelnya, beneran

    Reply
  2. jampang

    tadinya saya mau ikut. mikirnya cuma buat fiksi doang ternyata harus buat tulisan seperti di atas. saya cuma denger namanya doang. nggak tahu mau nulis apa 😀
    ___
    heuheu…iya bang, ini jg yg nonfiksi makanya geje begini 😛

    Reply
  3. nh18

    saya punya novel gadis pantai …
    namun entah mengapa baru sepertiga jalan …
    saya tertatih-tatih …
    belum saya lanjutkan lagi

    Salam saya Rin
    ___
    balik lg ke masalah selera sih ya Om heuheuheu

    Reply
  4. Idah Ceris

    Sudah lama tahu tentang Beliau. Tapi baru tahu tentang karya2nya dari postingannya mas jas dan di sini. Hohohoho.
    ___
    Ayo ikutan baca Pram jg Dah^^

    Reply
  5. Pingback: Peserta Giveaway #IWritetoInspire | Culture Therapy

  6. nyonyasepatu

    aku gak kelar2 bacanya huhu. abis bahasanya berat, gak nyampee RIn hihi
    ___
    tadinya aku pikir gitu jg Non, tapi seru lho ternyata hehehe

    Reply
  7. monda

    dulu susah banget dapat bukunya pak Pram, karena dilarang beredar,
    ada teman SMA yg punya, tapi dia nggak berani minjemin, sampai dirayu2 juga nggak dikasih…,
    jadi keterusan belum pernah baca bukunya sampai sekarang he..he..
    ___
    Iya Bun, itu jg salah satu ‘cerita serem’ temenku soal buku2nya Pram heuheu

    Reply
  8. Ruri Alifia R.

    Kak, saya pengen baca Gadis Pantai T.T Tapi dulu pernah nyoba baca karyanya Pram kok saya agak bosen, yak?
    ___
    Oh ya? aku baru baca serius dua judul sih Ruri, dan aku suka

    Reply
  9. titi esti

    Lho GA-nya berseri ? Belum sowan sohibul hajat.

    Aku belum pernah baca buku Pram satupun. Begitu dengar ‘kiri’ udah jiper duluan. Maklumlah, aku dibesarkan di masa orba.
    ___
    Iya Teh, GAnya fiksi dan non fiksi, harus dua2nya bukan milih hehehe

    Reply
  10. Fascha

    aku ngeri udah baca namanya pram doank, kebayang betapa berat baca buku2nya…
    ___
    setelah dibaca ga berat2 bgt lho menurutku 🙂

    Reply
  11. ditter

    Wah, saya belum baca buku-buku Pram satu pun. Padahal sebagian besar teman kuliah saya sudah baca. Sepertinya saya harus segera baca nih. Nggak ada ruginya juga, hehe….
    ___
    Ayo coba baca 😉

    Reply
  12. chocoVanilla

    PAT memang berhaluan kiri bahkan sempat ada “kisah” dengan Buya Hamka. Tapi terlepas dari ideologi yg dianutnya, karya2nya emang luar biasa! Apalagi kisah Nyai Ontosoroh 🙂 membuat tak ingin lepas dari bukunya 😀
    Selamat menikmati, Orin….
    ___
    Wah? jadi penasaran sama Nyai Ontosoroh *lgsg hunting*

    Reply
    1. chocoVanilla

      Adanya di tetralogi Buru, Orin. Di buku satu dan dua kayaknya 😀
      ___
      Siyaaap, harus dibaca nih itu si tetralogi berarti, semoga aja dapet gratisan *modus* qiqiqiqi

      Reply
  13. The Others

    Pramudya… aku cuma tahu nama besarnya tapi belum pernah berkesempatan membaca karya2nya mbak.
    ___
    Aku jg baru dua buku itu aja mbak, pinjeman pula hihihihi

    Reply
  14. catatan kecilku

    Rasanya aku harus membaca karya Pramudya suatu saat nanti.
    Sukses ya mbak buat GAnya…
    ___
    Makasih mbak Ren^^

    Reply
  15. prih

    Pernah baca beberapa, terlepas dari apapun haluannya, karya beliau sungguh kereen. Selamat menikmati karya2 beliau neng Orin. salam
    ___
    Iya Bu, sepakat, karyanya memang keren ya, makanya jadi legenda 🙂

    Reply
  16. mama hilsya

    kenapa manggil2 belahan jiwa eike ya? hahaha…
    ___
    Hoh? suka baca Pram Teh?

    Reply
  17. dg situru'

    Membaca pram memang menarik. Memperkaya perspektif kita tentang sejarah dan pergolakan bangsa ini.
    ___
    Iya, pantesan karyanya melegenda ya 😀

    Reply
  18. riga

    yang aku punya cuma novel Arok & Dedes. itupun baru kubaca sampul belakangnya aja. belakangan ‘nafsu’ membacaku drop abis. 😐
    ___
    nafsu bacaku msh tinggi bgt bang, cuma waktu dan badan yg cape kadang ga bisa kompromi 🙁

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: