Rindrianie's Blog

Tentang Telinga

Maafkanlah judulnya yang terlampau biasa hingga sulit dimengerti itu temans hihihihi.

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah talkshow edukasi kesehatan yang diadakan oleh SOHO Global Health #BetterU di Rumah Sakit Khusus THT-Bedah di Jalan Proklamasi 43. Rumah sakit ini letaknya persisi di seberang Tugu Proklamasi itu lho, entah sudah seberapa sering saya melewatinya. Tapi berhubung nggak pernah ngeh kalau itu namanya jalan Proklamasi (apalagi kalau ada rumah sakit di situ), teteup ya saya nyasar-nyasar dulu, sampai ke Jalan Surabaya segala hahahaha *ya udah weh sekalian liat-liat koper ya :P*.

IMG_20150305_103455

Rupanya temans, tanggal 3 Maret merupakan International Ear Care Day, untuk itulah talkshow edukasi yang kali ini bertajuk “Waspada Bahaya Ketulian Akibat Radang Telinga Tengah” ini digelar. Kami mendapat penjelasan singkat mengenai Radang telinga tengah (otitis media) atau sering disebut ‘congek’ dari Prof. dr. Zainul A. Djaafar, SpTHT-KL selaku wakil dari RS Khusus THT.

Di awal presentasi, Prof. Djaafar yang memang sudah sepuh ini sedikit mengingatkan peserta, bahwa terkadang telinga ini kehadirannya -seolah- disepelekan. Seperti ada dan tidak ada, tidak terlalu dianggap serius. Misalnya saja, kita rajin secara teratur memeriksakan gigi (meskipun tidak ada keluhan sakit), atau lumayan sering datang ke optik/dokter mata. Tapi ngaku deh, paling ke dokter THT pas annual medical check up aja kan? Saya sih begitu ya heuheu *tutup muka*.

Jadi intinya sih temans, kedua pasang telinga ini harus juga kita jaga dengan baik ya. Anugerah indah dari Sang Maha Mendengar, yang memungkinkan kita juga untuk bisa mendengar semesta beserta semua keindahannya. Mmm… kenapa jadi serius begitu? :D. Baiklah, mari kita lanjutkan lagi ke radang telinga tengah itu ya hehehe.

Peradangan ini biasanya diawali dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga bagian tengah melalui saluran eustachius. Saluran ini adalah saluran yang menghubungkan telinga bagian tengah dengan rongga di belakang hidung dan tenggorokan bagian atas. Ugh, jadi inget pelajaran Biologi waktu sekolah dulu nggak sih? hohohoho.

Otitis media rentan terjadi padi bayi dan anak-anak, jadi kalau mereka sedang mengalami ISPA dan tidak sembuh atau berlanjut, hati-hati ya temans, segera hubungi dokter THT juga. Kenapa? Karena pada saat anak-anak menderita ISPA, saluran tuba di telinga tengah yang menghubungkan dengan tenggorokan, memiliki jarak yang sangat dekat dan datar pada saat itu, sehingga resiko terkena otitis media lebih besar dibandingkan saat tubuh dalam kondisi sehat.

Prof. Djafaar menjelaskan, gejala otitis media di antaranya adalah rasa nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, pusing, demam, gangguan keseimbangan, dan gelisah. Mencegahnya cukup mudah sebetulnya, hanya dengan menjaga kondisi kesehatan dengan berolahraga teratur, asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari penyakit ISPA yang nantinya bisa memicu otitis media. Menjaga daya tahan tubuh serta kebersihan diri, menjaga kebersihan udara (ventilasi yang cukup, menghindari asap rokok). Pencegahan pada bayi bisa dilakukan dengan pemberian ASI minimal selama  6 bulan, serta menghindari memberikan usu di botol ketika bayi sedang berbaring.

Di sesi tanya jawab, ada informasi menarik mngenai membersihkan telinga dengan cotton bud. Prof. Djaafar menjelaskan, sebetulnya jika telinga tidak terasa gatal, atau nyeri, atau berair, dalam arti normal-normal saja, telinga tidak perlu dibersihkan. Meskipun tidak apa-apa juga jika ingin membersihkannya dengan cotton bud, tapi harus yang harus diperhatikan adalah caranya cukup menempelkan cotton bud untuk menyerap cairan/kotoran, membersihkan di bagian cuping telinga, tapi tidak perlu dimasukkan terlalu dalam.

Sekian reportase kali ini temans, kita jaga baik-baik yuk telinga kita. Kebayang nggak kalau semesta ini sunyi senyap tanpa suara apa pun yang bisa kita dengar? Kalau sudah begitu pasti teringat kalimat “maka nikmat Tuhan yang mana kah yang kamu dustakan?” ya? 🙂

Have a great day.

0 Comments

  1. selseya

    wah bagus mbak tulisanya hehhe
    bermanfaat jd mengerti 😀

    Reply
  2. eviindrawanto

    Aku malah lebih parah Teh, tak pernah memeriksakan telinga. Hiks..

    Reply
  3. bemzkyyeye

    Thanks info nya Orin..
    Udah lama ga ke rs Proklamasi, dlu itu rs gw jaman msh punya amandel, jd inget jg nih dah lama ga periksa telinga hiks

    Reply
  4. nengwie

    Sama kaya uni Evi, abdi oge tara ka Dokter kalau ngga sakit kupingnya hihi.. Ternyata harus yaaa sesekali diperiksa.. Nuhun teeh sudah diingatkan 🙂

    Reply
  5. jampang

    saya belum pernah meriksa telinga…. yang lain juga seh

    Reply
  6. ei

    Hmm, iya, saya tidak menyangkal kalo tidak pernah melakukan medical check up untuk telinga xixixi

    Reply
  7. desweet26

    hihihi iya bener ya..kalo gigi pasti rutin periksa per 6 bulan sekali, kalo telinga mah jaraaaang banget.
    periksanya kalo pas ada keluhan aja. Harusnya emang di periksain rutin ya mak..
    TFS ya mak.. ;)))

    Reply
  8. Lyliana Thia

    Alhamdulillah kami memiliki nikmat pendengaran yang baik 😀

    Reply
  9. della

    Kalo gue justru rutin ke dokter THT dari kecil, Rin. Soalnya saluran kuping gue bentuknya nggak standar, jadi nggak bisa bersihin pake cotton bud biasa, mesti cotton bud yang ada cungkilannya itu lho. Tapi nggak berani bersihin sendiri, takut kecolok. Jadilah ratusan ribu aja keluar tiap 6 bulan sekali. Nyokap gue dulu ledekannya, “Mahal banget buat t*i kuping aja,” hihihi..
    Nah ternyata anak gue dua-duanya mewarisi bentuk kuping ini. Ya udah deh, tiap 6 bulan deh ke THT 😀

    Reply
  10. Lidya

    kalau aku biasnaya cutton bud cuma buat bersihin daki sekitar telinga aja

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: