Rindrianie's Blog

[Sponsored Post] Terbang ke Wamena untuk Kenali Budaya Papua yang Sesungguhnya

papua

“Belum menjelajah Papua jika belum menyentuh Wamena”, jargon pariwisata ibukota kabupaten Jayawijaya ini menggambarkan dengan tepat bagaimana pentingnya Wamena untuk Papua. Jargon tersebut adalah kunci utama jika ingin mengenal pulau di ujung Timur Indonesia ini.

Wamena berada di Lembah Baliem, diapit gunung-gunung setinggi 2.500 meter dari Pegunungan Jayawijaya serta dilewati aliran Sungai Baliem. Kota ini menjadi yang tertinggi di Papua karena berada pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini membuat Wamena memiliki suhu yang sangat sejuk. Pemandangannya juga sangat cantik dan penuh warna.

Lokasi ini pula yang membuat Wamena masih sulit dijangkau lewat jalur darat. Untuk bisa mengunjungi Wamena, orang lebih banyak mengandalkan jalur udara. Maskapai komersial pun belum banyak yang menyediakan rute reguler menuju Wamena. Sejauh ini, Trigana Air menjadi salah satu maskapai utama yang melayani penerbangan reguler ke surga Indonesia Timur ini. Pemesanan tiketnya pun bisa dipesan melalui websitenya langsung atau website travel sekelas Traveloka.

Akrab dengan Suku Pedalaman

Wamena merupakan tempat yang paling tepat untuk mempelajari budaya kesukuan di Indonesia. Kota yang ketika ditemukan masih dikelilingi suku pertanian ini, sampai sekarang tetap mempertahankan cara hidup dengan sistem sosial kesukuan. Terdapat 3 suku utama yang mendiami tanah ini, yaitu Dani, Lani, dan Yali. Suku Dani adalah suku terbesarnya dan paling terkenal karena bersifat lebih ramah, terbuka, dan kreatif.

Anda bisa mengenali perbedaan antarsuku ini dari koteka (pakaian adat berupa penutup alat kelamin pria) yang dikenakan para prianya. Suku Dani cenderung menggunakan koteka berukuran kecil. Suku Lani menggunakan koteka lebih besar karena ukuran badan mereka yang juga lebih besar dari dua suku lainnya. Suku Yali malah identik dengan koteka yang ramping dan panjang, yang diikatkan ke pinggang dengan sabuk rotan.

Dulunya, ketiga suku ini kerap berperang satu sama lain. Beberapa dekade terakhir mendorong mereka melakukan perjanjian damai. Saat ini perang tersebut lebih bersifat pertunjukan seni dan budaya yang ditampilkan dalam Festival Lembah Baliem untuk menarik minat wisatawan.

Festival tersebut kerap diselenggarakan setiap bulan Agustus selama 3 hari, berbarengan dengan hari kemerdekaan RI. Festival yang semula diadakan sebagai arena adu kekuatan antarsuku ini pertama kali terselenggara tahun 1989. Saat ini, Festival Lembah Baliem lebih mempertunjukkan kehebatan dan ketangkasan suku serta kemewahan pakaian adat mereka.

Menengok Praktek Mumi

Pengalaman menarik yang pastinya sangat sulit Anda temukan lagi di kawasan lain Tanah Air adalah melihat langsung mumi manusia. Wamena adalah tempat dimana Anda bisa melihat langsung mumi kepala suku, bahkan berfoto dengannya. Pastikan Anda menyediakan uang lebih karena biasanya penduduk setempat akan meminta bayaran seusai Anda berfoto dengan mereka atau mumi kepala suku tersebut.

Masyarakat Wamena percaya mumi adalah bentuk penghormatan bagi kepala suku, sehingga mumi yang berada di Wamena adalah jenazah kepala suku. Mumi tersebut disimpan dan dijaga dengan baik selama ratusan tahun karena masyarakat percaya akan keberuntungan yang dibawa olehnya. Salah satu lokasi pengawetan mumi bisa Anda temukan di Kampung Wisata Sompaima – Kurulu yang berada sejauh kurang lebih 17 km dari Wamena.

Metode pengawetan di Wamena terbilang berbeda dari cara umum yang dilakukan orang Mesir. Jika orang Mesir membuat mumi dengan menggunakan balsam, maka di Wamena menggunakan asap. Mumi kepala suku dibakar dan diasapi untuk pengawetan. Oleh karena itulah mumi di kota ini berwarna hitam.

Belanja Oleh-oleh

Jika ingin belanja oleh-oleh khas Wamena, Anda bisa memborongnya di Pasar Jibama. Pasar oleh-oleh khas Wamena ini menyediakan pernak-pernik kerajinan tangan masyarakat Wamena, seperti: tas Noke, gelang Sengkan, bahkan sampai kaos sepak bola Persiwa (Wamena). Anda pun bisa membeli kerajinan tangan karya para wanita Suku Dani saat mengunjungi tanah mereka (kampung Kurulu). Rata-rata para wanita suku tersebut menjual pernak pernik yang dibuat dari bahan kulit dan tulang babi hutan serta batu berharga mutumanikam.

4 Comments

  1. alrisblog

    Baru tau kalo di Wamena ada juga mumi, 🙂

    Reply
  2. cumilebay.com

    Salah satu impian gw yg mesti terlaksana tahun ini #Bismillah

    Reply
  3. bemzkyyeye

    Dr dulu, pengen banget kesana. Semoga tercapaiiii, doain dong hehehe

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Aamiin, ajakin gw ya Ye kalo jd ke sana #eeaaa hihihihi

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: