Rindrianie's Blog

Terlambat

Rupanya rumah Ibu Sadrah di surga baru saja selesai dibangun. Perempuan itu sempat hidup lima puluh tiga tahun dua bulan empat belas hari. Sebuah rentang waktu yang cukup lama bagi seorang manusia, bahkan usiaku belum sampai separuhnya. Tapi tetap saja, aku terlambat meminta ampun.

Benar, ibu Sadrah, perempuan yang baru saja meninggal itu, adalah ibuku. Dan aku membencinya hingga ke tulang sumsum sejak aku bisa mengingat. Aku membenci perempuan itu, dan kini perempuan itu mati dan menjadi mayat. Bagaimana aku meminta maaf pada sesosok mayat?

Tapi aku punya alasanku sendiri kenapa aku harus membencinya. Tidak, tidak bisa aku ceritakan kenapa aku membenci perempuan yang sudah melahirkanku ke dunia seperti Ibu Sadrah, tidak sekarang atau nanti atau tahun depan atau kapan saja, pokoknya tidak bisa. Durhaka katamu? Hei, aku tahu aku berdosa, tapi aku tak pernah meminta perempuan itu menjadi ibuku, bukan?

Aku tahu, sudah seharusnya aku tidak membenci ibuku sendiri, dan aku sudah berniat meminta maaf dan menemuinya sejak tiga tahun lalu. Sejak aku minggat sekitar sepuluh tahun lalu, aku tahu ibuku tak pernah berhenti mencariku. Tapi aku menolak ditemukan, aku selalu bersembunyi, aku lebih suka sendiri. Meskipun lama-lama aku kasihan juga pada Ibu Sadrah yang semakin renta. Mungkin aku harus mengakhiri kebencianku padanya. Tapi kemudian aku terlampau sibuk hingga lupa pulang.

Kemarin, Ibu Sadrah mendekati persembunyianku.

“Nak, maafkan Ibu yang telah membunuh ayahmu,” begitu katanya di depan pintu. Sepertinya Ibu Sadrah tahu aku mendengarnya diam-diam, karena kemudian perempuan itu menceritakan semua kisah tentang Ayah yang sebetulnya tidak ingin aku ketahui. Tapi akhirnya aku tahu, Ibu tak pernah bersalah. Tentu saja perempuan itu berdosa karena telah menghilangkah nyawa ayah, tapi itu karena… Ah sudahlah, kau tak akan mengerti.

Intinya adalah, aku terlambat. Aku terlambat meminta maaf. Aku terlambat datang. Aku terlambat menemuinya. Dan aku terlambat tahu, bahwa rupanya Ayahku masih hidup, karena ternyata, lelaki itu yang telah menusukkan belati ke perut Ibu Sadrah.

***

Bersambung ke cerita selanjutnya

Note : 313 Kata, eyampun geje banget 😛 Eniwey, FF ini untuk #FF2in1

Terlambat

Rupanya rumah Ibu Sadrah di surga baru saja selesai dibangun. Perempuan itu sempat hidup lima puluh tiga tahun dua bulan empat belas hari. Sebuah rentang waktu yang cukup lama bagi seorang manusia, bahkan usiaku belum sampai separuhnya. Tapi tetap saja, aku terlambat meminta ampun.

Benar, ibu Sadrah, perempuan yang baru saja meninggal itu, adalah ibuku. Dan aku membencinya hingga ke tulang sumsum sejak aku bisa mengingat. Aku membenci perempuan itu, dan kini perempuan itu mati dan menjadi mayat. Bagaimana aku meminta maaf pada sesosok mayat?

Tapi aku punya alasanku sendiri kenapa aku harus membencinya. Tidak, tidak bisa aku ceritakan kenapa aku membenci perempuan yang sudah melahirkanku ke dunia seperti Ibu Sadrah, tidak sekarang atau nanti atau tahun depan atau kapan saja, pokoknya tidak bisa. Durhaka katamu? Hei, aku tahu aku berdosa, tapi aku tak pernah meminta perempuan itu menjadi ibuku, bukan?

Aku tahu, sudah seharusnya aku tidak membenci ibuku sendiri, dan aku sudah berniat meminta maaf dan menemuinya sejak tiga tahun lalu. Sejak aku minggat sekitar sepuluh tahun lalu, aku tahu ibuku tak pernah berhenti mencariku. Tapi aku menolak ditemukan, aku selalu bersembunyi, aku lebih suka sendiri. Meskipun lama-lama aku kasihan juga pada Ibu Sadrah yang semakin renta. Mungkin aku harus mengakhiri kebencianku padanya. Tapi kemudian aku terlampau sibuk hingga lupa pulang.

Kemarin, Ibu Sadrah mendekati persembunyianku.

“Nak, maafkan Ibu yang telah membunuh ayahmu,” begitu katanya di depan pintu. Sepertinya Ibu Sadrah tahu aku mendengarnya diam-diam, karena kemudian perempuan itu menceritakan semua kisah tentang Ayah yang sebetulnya tidak ingin aku ketahui. Tapi akhirnya aku tahu, Ibu tak pernah bersalah. Tentu saja perempuan itu berdosa karena telah menghilangkah nyawa ayah, tapi itu karena… Ah sudahlah, kau tak akan mengerti.

Intinya adalah, aku terlambat. Aku terlambat meminta maaf. Aku terlambat datang. Aku terlambat menemuinya. Dan aku terlambat tahu, bahwa rupanya Ayahku masih hidup, karena ternyata, lelaki itu yang telah menusukkan belati ke perut Ibu Sadrah.

***

Bersambung ke cerita selanjutnya

Note : 313 Kata, eyampun geje banget 😛 Eniwey, FF ini untuk #FF2in1

0 Comments

  1. junioranger

    Eyaampuuun sainganku Mbak RinRin :((
    ___
    Haiyyaahhh, maksudnya apa Jun? 😛

    Reply
  2. Pingback: Beruntung (?) | Rindrianie's Blog

  3. jampang

    ke cerita selanjutnya…. kali aja bisa ngerti

    Reply

Leave a Reply