Rindrianie's Blog

The Time of My Life

Sahabat, seringkali banyak diantara kita, yang masih menggelantung  pada tali di sebuah zeppelin yang akan mengudara. Masih berpikir-pikir untuk melepaskan pegangan saat jarak masih mungkin untuk melompat. Atau terlalu banyak pertimbangan sehingga baru memutuskan melompat saat ketinggian sudah mencapai beberapa meter, dan menyebabkan kaki terkilir (atau bahkan patah) saat mendarat.

Padahal, menunda perbaikan adalah memperpanjang masa penderitaan.

Betapa banyak waktu yang tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya karena ketidaktegasan kita terhadap sesuatu.

Betapa kita akan hidup dalam penyesalan karena telah memutuskan untuk tidak melakukan.

Lantas, kenapa kita masih saja menunda? Seolah waktu yang kita miliki tidak terbatas? Seakan-akan selalu ada “nanti” yang tersedia bagi kita? 

Sahabat, suatu hari saya terjatuh dari motor. Tidak ada luka serius akibat peristiwa tersebut, tetapi mampu menyadarkan saya terhadap –sekali lagi- pentingnya waktu. Lutut saya yang cedera, memar dan bengkak, sungguh menyulitkan saya dalam gerakan-gerakan sholat yang saya dirikan. Pada saat itu saya sadar, betapa BELIAU Yang Maha Memuliakan sedang menegur saya lewat peristiwa yang saya alami. Bahwa seringkali –disaat saya sehat, bugar, dan tak kurang suatu apapun- saya mengerjakan sholat hanya sebatas melaksanakan kewajiban, terkadang menjadikannya sebuah beban dan bahkan mengalokasikan waktu sekedarnya untuk ibadah ini.

Setiap kali selesai menunaikan ibadah –yang saya kerjakan dengan susah payah menahan rasa sakit- itu, ‘waktu-waktu lapang’ yang sudah saya tinggalkan pun memenuhi otak dan pikiran saya. Betapa bodohnya saya telah menyiakan waktu-waktu tersebut. Waktu dimana seharusnya, merupakan sarana bagi saya untuk berkomunikasi dengan Tuhan Yang Selalu Memuliakan saya, atau ajang penyampaian rasa syukur saya pada BELIAU Yang Maha Memberi, atau obat hati yang rindu bertemu Kekasih Yang Maha Menyayangi.

Seorang Bijak pernah mengatakan, engkau adalah pena yang menuliskan cerita kehidupanmu sendiri. Jika cerita yang kau pilih berisi kasih sayang dan keindahan, maka tangan yang menggunakanmu adalah tangan Tuhan. Dan bagaimana saya bisa menjadi pena, yang menuliskan cerita indah kehidupan saya itu, jika saya tidak sepenuhnya hadir dalam waktu-waktu kebersamaan saya dengan Tuhan??

Sungguh pedih hati saya saat tersadar, bahwa saya telah melalaikan waktu-waktu –yang berharga- itu. Waktu dimana seharusnya saya bisa berdoa lama memuji dan memuja BELIAU.

Malu hati ini saat tahu betapa saya sering tidak mendengar, sehingga Tuhan harus ‘menegur’ saya seperti itu. Tuntunan yang penuh kasih sayang dari Beliau atas kealpaan saya, sehingga tidak lagi saya menyiakan waktu yang tidak mungkin akan kembali.

Tapi, kedamaian itu perlahan singgah dihati saya, kemudian menetap menjadi pengertian-pengertian baru, bahwa jangan sampai Beliau Yang Maha Pengasih ‘menegur’ saya kembali karena kurangnya saya menghargai waktu yang diamanahkan pada saya.

 Sahabat, sebuah lagu David Cook berjudul The Time of My Life ini, telah ikut andil dalam penerimaan cahaya pengertian ini.

 So I’ll taste every moment, and live it out loud

I know this is the time

This is the time to be more than a name, or the face in the crowd

I know this the time of my life

Sahabat, tahun yang baru berusia 49 hari ini akan segera berlalu tanpa kita sadari. Dan karena kita hidup dalam rentang waktu yang terbatas, rasanya tak berlebihan jika menyegerakan diri untuk mengisinya dengan upaya-upaya kebaikan. Menikmati dan memperlakukan setiap detik dengan penuh cinta, sehingga kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih dari sekedar nama, atau hanya satu wajah dari sekerumunan orang, sehingga mampu menjadi pribadi yang disiapkan Tuhan untuk ‘menjadi’.

0 Comments

  1. botron7

    hhhhmmmm….(merasa terkoreksi)
    terimakasih,,,, semoga saya mjd lebih baik,,,
    amienn,,,

    Reply
  2. Pingback: Valentina Orin « Rindrianie's Blog

Leave a Reply

%d bloggers like this: