Rindrianie's Blog

Yang Menarik Saat Ngebolang ke Luang Prabang

Tidak, sepertinya saya tidak akan menuliskan soal keindahan Kuang Si Waterfall, pengalaman menyusuri Sungai Mekong dengan boat kecil, atau menaiki sekian tangga untuk sampai di Tham Ting Cave, bisa cari di Wikipedia atau web wisata saja ya #eh hihihihi.

Tapi ada dua cerita berkesan (bagi saya) yang ingin saya tuliskan di sini sebagai pengingat kelak, tidak apa-apa ya :D.

Pertemuan di Watthat Restaurant

Errr… ini semacam judul bab di novel nggak sih? hahahaha.

Berbekal informasi di grup Backpacker, Pak Suami mencari Watthat Restaurant yang menjual makan halal di Luang Prabang. Sudah hampir pukul 7 malam waktu setempat, dua meja sudah terisi. Di meja pojok duduk seorang om-om bule, meja yang satu lagi mas-mas yang sepertinya orang Indonesia atau Malaysia. Kami pun duduk di meja yang masih kosong, memesan sepiring nasi goreng seafood (ha ha :P) dan lap -makanan khas Laos, mirip sekali dengan karedok kalo menurut saya- dan minuman.

Saat sedang menunggu, si mas berwajah Asia membuka percakapan dengan mengucap salam, mungkin karena melihat saya yang berhijab ya. Jadilah kami mengobrol bla bla bla, rupanya si mas ini namanya Abang Fikri, dari Kuala Lumpur, dan kedai Whattat itu pun milik Pakcik Edi, orang Malaysia yang sudah berbelas tahun tinggal (kemudian berkeluarga) di Luang Prabang.

Percakapan menghangat, kami jadi tidak enak sendiri saat membiarkan om-om bule hanya menjadi penonton. Bertanyalah kami padanya beliau berasal dari mana, dan beralih mengobrol dengan bahasa Inggris. Tapi kemudian si Om menjawab “Saya dari Jerman, tapi sudah sebelas tahun tinggal di Bali, jadi bisa bicara bahasa Indonesia” Laaaaah!! hahahaha

Jadilah kita berempat bercakap dengan bahasa Melayu, akhirnya ngobrol berlima dengan pakcik Edi sang pemilik resto yang ikut bergabung. Dunia ini sempit ya :P.

dari kiri ke kanan: AM, pakcik Edi, abang Fikri, Om bule-yang nama-Jermannya-susah-sekali-diingat :D

dari kiri ke kanan: AM, pakcik Edi, abang Fikri, Om bule-yang nama-Jermannya-susah-sekali-diingat šŸ˜€

Pertemuan di Boat

Seharusnya, jadwal menyusuri sungai Mekong kami lakukan di hari Sabtu, 31 Maret 2018, tapi si abang tuktuk katanya nyasar-nyasar saat akan menjuemput kami di penginapan. Jadilah terpaksa dijadwal ulang ke hari Minggu-nya, yang membuat seluruh baju-koper-barang di kamar dikeluarkan oleh madam pemilik penginapan karena seharunya kami sudah check out jam 12 tapi baru pulang jam 1 siang ha ha.

Anyway, saat naik tuktukĀ  menuju semacam pelabuhan boat, saya sudah tahu 3 orang ini adalah turis Jepang. Tapi saya baru berbincang dengan mereka saat ternyata kami berada dalam boat yang sama dengan beberapa penumpang lain. Pasangan suami istri itu berasal dari Okinawa, sementara mas-mas berkacamata adalah orang Kyoto.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Setelah berbasa basi ini itu bla bla bla, si ibu Jepang ini bertanya sesuatu yang baru kali ini ditanyakan seorang asing kepada saya “bagaimana caranya memakai jilbab seperti yang saya pakai?” :D. Kebetulan si ibu memakai scarf yang dileletkan di lehernya, jadilah saya membantunya menunjukkan bagaimana si kain panjang itu terpakai di kepala. Ibu Jepang ini terlihat sangat senang saya mengajarinya, dan masih memakaiĀ scarf kuningnya di kepala saat kami menaiki tangga menuju gua Tham Ting lho heuheu.

Kami menjadi cukup akrab selama sisa perjalanan menyusuri Sungai Mekong dengan boat, saat kembali ke pelabuhan, si Ibu berkata untuk segera berkunjung ke Jepang, karena makanan halal untuk saya sudah banyak tersedia. Wahhhh, saya cukup kaget dong, dia tahu makanan halal segala lho! Saya ingin bertanya lebih banyak, sayangnya kami harus berpisah, saya harus segera ke airport untuk mengejar pesawat, sementara mereka akan melanjutkan berpetualang ke Kuang Si.

jadi bisa diajak welfie hihihi

jadi bisa diajak welfie hihihi

Nah, itulah dua pengalaman yang ingin saya ceritakan heuheu. Setiap perjalanan memang selalu menyenangkan ya :). Kapan terakhir kali kamu ngebolang, kawan? Ada yang seru kah? šŸ˜€

2 Comments

  1. Anne Adzkia

    Baru aja habis ngebolang juga sama anak-anak ke Malang. Skrga hijab itu memang sudah jelas penanda/identitas buat kita muslim ya. Orang udah tahu kalo yg berhijab pasti carinya makanan halal.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      wahhhh pengen ke Malang, tempo hari mampir sebentar doang pas mw ke Bromo :D. Iya alhamdulillah banyak yang udh notice sm hijab

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: