Rindrianie's Blog

You are The Reason

Saya mendengar lagu ini pertama kali di radio saat menyetir, yang tertangkap telinga tentu saja kalimat so sweet nan romantis “I climb every mountain, swim every ocean” itu, yang membuat saya bereaksi eyampun lebay amaaaat hahahaha.

Tapi romantis dan lebay sepertinya memang berbanding lurus ya, maksud saya nih, mana ada sih kata/kalimat romantis yang tidak lebay? Tapi definisi lebay itu sendiri apa? Nama pun jatuh cinta, semuanya boleh, segalanya mungkin, pokoknya begitulah ya, biarin aja sih *absurd. Toh lagu-lagu cinta semacam ini penting adanya demi perdamaian dunia *halah.

Lagu ini otomatis menjadi lagu favorit saya yang baru, apalagi saat guru yoga saya pun sering memutar lagu ini saat sesi relaksasi. Mungkin karena si kakak guru saya ini memang sedang jatuh cinta ya hihihihi. Seperti biasanya, saya bisa mendengarkan si lagu berulang kali berulang kali berulang kali terus-terusan tanpa bosan. Bahkan selama menuliskan postingan ini (kurang lebih satu jam, karena sembari mengerjakan hal-hal lain), si lagu inilah yang konstan menemani.

Pertanyaan saya berikutnya adalah, bagaimana jika lagu romantis ini didengar oleh orang-orang yang sedang patah hati? Mereka yang sedang merasa tersakiti justru karena cinta yang seharusnya membuat hidup lebih berbunga. Para manusia yang sedang tidak beruntung akan cinta yang mungkin tak lagi dimilikinya?

Tindakan paling ekstrim mungkin akan langsung melempar radio/TV/perangkat yang memutar si lagu sampai rusak ya :P. Saya rasa itu wajar-wajar saja, toh hidup memang tidak selalu baik-baik saja, dan marah-kecewa-sedih-benci gara-gara cinta pun bisa saja terjadi.

Saat seseorang yang kita cintai ternyata berkhianat, misalnya, sedang bersikap tidak setia dengan cara menduakan cinta yang telah kita berikan seutuhnya, boro-boro growing old together seperti harapan semula, lah masih muda aja sudah saling berselisih jalan. Akan sangat wajar jika dalam kondisi seperti ini, reaksi yang terjadi saat mendengar lagu ini adalah umpatan what the h*** atau kata-kata ber’bintang’ lainnya yang tidak akan diucapkan saat kondisi normal.

Padahal, kita sudah tahu (dan bahkan paham) bahwa tak ada yang abadi, bahwa semua dan segala yang dimiliki di dunia ini adalah titipan. Termasuk si pasangan. Jangankan masih pacaran, yang sudah menikah berpuluh tahun pun bisa saja bercerai. Bukan, bukan berarti love story yang happily ever after itu mustahil, tapi ya begitulah hidup, terkadang tak bisa lurus mulus selalu sesuai harapan, terkadang sh*t happens.

Ini kenapa ngelantur ya? hahahaha.

Kembali ke lagu Calum Scott ini (versi yang duet dengan Leona Lewis memang lebih syahdu ya :D), saya melihat bahwa ‘you’ dalam lirik lagu bisa saja kita maknai sebagai YOU dengan semua ke-Maha Besar-anNya. Bukankah alasan kita hidup memang karena Tuhan belaka? Bukankah kita sudah lama tahu bergantung pada makhluk itu hanya akan berujung pada kekecewaan belaka? Kenapa tidak bergantung pada Sang Pemilik Makhluk, karena tak ada satu pun yang luput dari penjagaanNya, termasuk urusan cinta. Yakin saja cintaNya tak akan habis dibagikan selama kita setia mencintaNya, iya kan?

Ah sudahlah, sepertinya saya perlu kopi. Dan mari kita nikmati saja lagu romantis ini, yes? 😉

Leave a Reply

%d bloggers like this: